SUKOHARJO – Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (UNDIP) yang tergabung dalam Tim 3 KKN-T IDBU 53, Amanda Valentina Toti, melaksanakan program penyusunan rencana tata kelola wisata edukasi konservasi burung hantu Tyto alba di Kampung Klurahan, Kelurahan Sukoharjo, Rabu (5/8). Kegiatan yang berlangsung pukul 10.00 WIB tersebut menyasar pengelola P4S Harmoni, pengurus kelompok tani, dan perangkat kelurahan. Program ini bertujuan memperkuat pemahaman mengenai manajerial, tata kelola, pembagian peran, serta perencanaan pengembangan wisata edukasi berbasis konservasi.
P4S Harmoni telah memanfaatkan burung hantu Tyto alba sebagai pengendali alami hama tikus sejak 2012. Keberadaan konservasi tersebut juga telah menjadi rujukan studi banding dari beberapa wilayah. Namun, kunjungan masyarakat dan akademisi selama ini masih bersifat insidental dan belum dikelola dalam konsep wisata edukasi yang terstruktur. Keterbatasan tata kelola kelembagaan dan belum adanya rencana pengembangan jangka panjang menjadi salah satu tantangan dalam mengoptimalkan potensi ekonomi dan edukasi kawasan.
Menjawab kebutuhan tersebut, Amanda Valentina Toti menyusun dokumen Rencana Pengelolaan dan Tata Kelola Kelembagaan yang mencakup analisis 4A (Attraction, Accessibility, Amenities, Ancillary), pemetaan peran pemangku kepentingan, serta roadmap pengembangan wisata. Dalam pendampingannya, disampaikan pula model tata kelola kolaboratif dengan menempatkan P4S Harmoni sebagai koordinator bersama pemerintah kelurahan, dinas terkait, perguruan tinggi, KWT, dan komunitas lokal. Materi tersebut menjadi bagian dari buku manajemen “Pengembangan Wisata Edukasi (Edutourism) Berbasis Masyarakat dan Tata Kelola Berkelanjutan Konservasi Burung Hantu Tyto alba.”
Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan melibatkan pengelola P4S Harmoni dalam diskusi mengenai berbagai tantangan pengelolaan wisata berbasis masyarakat. Sri Wiji Astuti, selaku perwakilan pengelola P4S Harmoni, mengapresiasi pendampingan yang diberikan. “Program ini sangat bagus dan berpotensi besar untuk dikembangkan bersama. Modul yang disusun ini dapat dijadikan pedoman dasar dalam tata kelola kelembagaan, pengembangan eduwisata, serta berbagai kegiatan di Kelurahan Sukoharjo,” tuturnya.
Dari kegiatan tersebut dihasilkan dokumen perencanaan strategis yang memuat roadmap pengembangan selama lima tahun, pemetaan stakeholder, serta panduan operasional paket wisata edukasi Tyto alba. Dokumen dan media informasi edukatif yang diserahkan kepada pengelola diharapkan dapat menjadi pijakan dalam mengembangkan kunjungan wisata berbasis pendidikan secara berkelanjutan. Pengelola P4S Harmoni juga memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai pembagian peran, pihak-pihak yang dapat dilibatkan, serta tahapan pengembangan wisata edukasi Tyto alba.
Ke depan, tindak lanjut program diarahkan pada penguatan kapasitas sumber daya manusia pemandu wisata lokal, pembentukan forum komunikasi rutin antarpemangku kepentingan, serta perluasan jejaring promosi kepada lembaga pendidikan dan instansi pemerintahan. Pengembangan tersebut diharapkan dapat dilakukan secara konsisten melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, pengelola, dan masyarakat. Kegiatan ini sejalan dengan SDGs 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, SDGs 15 tentang Ekosistem Daratan, serta SDGs 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui penataan kawasan berbasis masyarakat, pelestarian Tyto alba, dan penguatan kemitraan dalam pengembangan wisata edukasi di Kelurahan Sukoharjo.